Selasa, 30 Oktober 2012

PETA-PETA KERJA


Peta-Peta Kerja

Definisi Peta Kerja
Peta kerja adalah suatu alat yang mengambarkan kegiatan kerja secara sistematis dan jelas, (biasanya kerja produksi). Lewat pete-peta ini kita bisa melihat semua langkah atau kejadian yang dialami oleh suatu benda kerja dari mulai masuk ke pabrik (berbentuk bahan baku) kemudian mengambarkan semua langkah yang dialaminya, seperti transportasi, operasi mesin, pemeriksaan dan perakitan,sampai akhirnya menjadi produk jadi, baik produk lengkap, atau merupakan bagian dari produk lengkap. (Sutalaksana, 2006)
Adapula defenisi peta kerja lainnya yaitu merupakan gambaran sistematis dan logis dalam menganalisis proses kerja dari tahap awal sampai akhir. Dengan peta ini juga didapatkan informasi-informasi yang diperlukan untuk memperbaiki metode kerja, seperti benda kerja yang harus dibuat, operasi untuk menyelesaikan kerja, kapasitas mesin atau kapasitas kerja lainnya, dan urutan prosedur kerja yang dialami oleh suatu benda kerja. (Sritomo, 1992)
Apabila  kita melakukan studi yang saksama terhadap suatu pekerja, maka pekerjaan kita dalam usaha untuk memperbaiki metode kerja dari suatu proses produksi akan lebih mudah dilaksanakan. Perbaikan yang mungkin dilakukan, antara lain, kita bisa menghilangkan operasi-operasi yang tidak perlu, menggabungkan suatu operasi dengan operasi lainnya, menemukan suatu urutan-urutan kerja, menentukan mesin yang lebih ekonomis, dan menghilangkan waktu menunggu antaroperasi. Pada dasarnya semua perbaikan tersebut ditujukan untuk mengurangi biaya produksi secara keseluruhan. Dengan demikian, peta ini merupakan alat yang baik untuk menganalisa suatu pekerjaan sehingga mempermudah dalam perencanaanperbaikan kerja.. (Sutalkasana, 2006)
Lambang-Lambang Yang Digunakan       
Menurut catatan sejarah peta-peta kerja yang ada sekarang ini dikembangkan oleh Gilberth, dan pada saat itu Gilberth mengusulkan 40 buah lambang yang bisa dipakai. Namun pada tahun berikutnya lambang tersebut hanya tinggal 4 macam saja. Penyederhanaan ini memudahkan pembuatan suatu peta kerja, disamping setiap notasi mempunyai fleksibilitas yang tinggi karena setiap lambing mempunyai kandungan arti yang sangat luas. Dalam  tahun 1947 American Society of Mechanical Eingineers (ASME) membuat standar lambang-lambang yang terdiri dari 5 macam lambang modifikasi dari yang telah dikembangkan sebelumnya oleh Gilberth. Lambang-lambang standar dari ASME inilah yang akan digunakan dalam pembahasan-pembahasan. Berikut ini adalah gambar-gambar beserta dengan penjelasannya:
Macam-Macam Peta Kerja
Pada dasarnya peta kerja dibagi kedalam dua kelompok, berdasarkan jenis kegiatannya dan berikut ini adalah pembagian kelompok peta kerja berdasarkan kegiatannya:
  • Peta kerja yang digunakan untuk menganalisa kegiatan kerja keseluruhan. Suatu kegiatan disebut kegiatan kerja apabila kegiatan tersebut melibatkan sebagian besar atau semua fasilitas yang diperlukan untuk untukmembuat produk yang bersangkutan, yang termasuk kelompok kegiaan keseluruhan antara lain:
a. Peta Proses Operasi
b. Peta Aliran Proses
c. Peta Proses Kelompok Kerja
d. Diagram Alir
  • Peta kerja yang digunakan untuk menganalisis kegiatan kerja setempat, yaitu apabila kegiatan tersebut terjadi dalam suatu stasiun kerja yang biasanya hanya melibatkan orang dan fasilitas dalam jumlah terbatas, yang termasuk kelompok kegiatankerja setempat antara lain:
a. Peta pekerja, dan mesin
b. Peta tangan kanan – tangan kiri
Kelompok Kegiatan Kerja Keseluruhan
Pada peta kelompok kegiatan kerja keseluruhan terdiri dari empat jenis peta. Di bawah ini penjelasan tentang 4 jenis peta dalam peta kelompok kegiatan kerja keseluruhan.
Peta proses operasi adalah peta kerja yang mengambarkan urutan yang terjadi  dalam masalah penyelesaiaan suatu pekerjaan dari awal sampai menjadi produk  akhir. Dengan adanya informasi-informasi yang bisa dicatat melalui peta proses operasi, dapat diperoleh beberapa manfaat diantaranya:
  1. Bisa mengetahui kebutuhan akan mesin dan penganggarannya.
  2. Bisa memperkirakan keburuhan akan bahanbaku(dengan memperhitungkan efisiensi ditiap operasi/pemeriksaan).
  3. Sebagai alat untuk menentukan tata letak pabrik.
  4. Sebagai alat untuk melakukan perbaikan cara kerja yang sdang dipakai.
  5. Sebagai alat untuk latihan kerja.
  6. Dan lain-lain.
Menggambar peta proses operasi dengan baik, ada beberapa prinsip yang perlu di ikuti sebagai berikut:
  1. Pertama-tama pada baris paling atas dinyatakan kepalanya Peta Proses Operasi yang diikuti oleh identifikasi lain seperti: nama obyek, nama pembuat peta, tanggal dipetakan, nomor peta dan nomor gambar.
  2. Material yang akan diproses diletakan diatas garis horizontal, yang menunjukan bahwa material tersebut masuk ke dalam proses.
  3. Penomoran terhadap suatu kegiatan operasi diberikan secara berurutan sesuaidengan urutan operasi yang dibutuhkan untuk pembuatan produk tersebut atau sesuai dengan proses yang terjadi.
  4. Penomoran terhadap suatu kegiatan pemeriksaan diberikan secara tersendiri dan prinsipnya sama dengan penomoran untuk kegiatan operasi.
Peta aliran proses adalah suatu diagram yang menunjukan urutan-urutan dari operasi, pemeriksaan, transportasi, menuggu, dan penyimpanan yang terjadi selama satu proses atau prosedur berlangsung. Dan peta aliran proses ini dibagi kedalam beberapa kelompok antara lain yaitu:
  1. Peta aliran proses tipe bahan yaitu peta yang mengambarkan kejadian yang dialami bahan dalam suatu proses atau prosedur operasi.
  2. Peta aliran proses tipe orang pada dasarnya dibagi menjadi 2 bagian, yaitu:
  • Peta aliran proses pekerja yang mengambarkan aliran kerja seorang operator.
  • Peta aliran proses pekerja yang mengambarkan aliran kerja sekelompok manusia. (Sutalkasana, 2006)
Peta proses kelompok kerja pada dasarnya merupakan adaptasi dari peta pekerja dan mesin, peta kelompok kerja ini akan menunjukan hubungan antara siklus menganggur dan dan siklus waktu operasi dari mesin atau proses dan waktu menganggur serta waktu kerja persiklus dari pekerja – pekerja yang akan melayani mesin atau proses tersebut. (Sritomo, 1992)
Diagram alir merupakan satu gambaran menurut skala, dari susun lantai dan gedung.. Menunjukan lokasi dari semua aktivitas yang terjadi dalam peta aliran proses.
Kelompok Kegiatan Kerja Setempat
Peta kerja kelompok kegiatan kerja setempat terdiri dari peta pekerja dan mesin serta peta tangan kanan dan tangan kiri. Penjelasan dari kedua peta tersebut sebagai berikut:
  • Peta Pekerja dan Mesin
Peta pekerja dan mesin dapat dikatakan merupakan suatu grafik yang menggambarkan koordinasi antara waktu bekerja dan waktu menganggur dari kombinasi antara pekerja dan mesin. Dengan demikian peta ini merupakan alat yang baik digunakan untuk mengurangi, waktu menganggur. Informasi paling penting yang diperoleh melalui peta pekerja dan mesin ialah hubungan yang jelas antara waktu kerja operator dan waktu operasi mesin yang ditanganinya. Dengan informasi ini, maka kita mempunyai data yang baik untuk melakukan penyelidikan, penganalisaan, dan perbaikan suatu pusat kerja, sedemikian rupa sehingga efektifitas penggunaan pekerjaan dan atau mesin bisa ditingkatkan, dan tentunya keseimbangan kerja antara pekerja dan mesin bisa lebih diperbaiki. (Sutalkasana, 2006)
  • Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri
Peta tangan kanan-tangan kiri merupakan gambaran semua gerakan saat bekerja dan wktu menganggur yang dilakukan oleh tangan kiri dan tangan kanan. Serta menunjukan perbandingan tugas yang dibebankan pada tangan kri dan tangan kanan. Adapun prinsip-prinsip yang digunakan dalam peta tangan kanan-tangan kiri adalah sebagai berikut:
  1. Berbeda dengan peta yang lain untuk membuat peta tangan kanan-tangan kri lembaran kertas dibagi dalam tiga bagian yaitu kepala, bagian yang memuat bagian dari sistem kerja, dan bagian-bagian badan.
  2. Pada bagian kepala, dibaris paling atas ditulis PETA TANGAN KANAN-TANGAN KIRI setelah itu menyertakan identifikasi-dentifikasi lainnya seperti: nama pekerjaan, nama depertemen, cara peta, dll.
  3. Pada bagian yang memuat bagan digambarkan sketsa dari sistem kerja  yang memperlihatkan skala.
  4. Bagian “badan” dibagi kedalam dua pihak, yaitu pihak sebelah kiri kertas digunakan untuk mengambarkan kegiatan yang dilakukan oleh tangan kiri an sebaiknya.
  5. Langkah selanjutnya,diperhatikan urutan-urutan gerakan yang dilaksanakan oleh operator. Kemudian operator-operator tersebut diuraikan menjadi elemen-elemen gerakan. Biasanya dibagi dalam delapan elemen.

Selasa, 23 Oktober 2012

Modul II : Perancangan dan Pengukuran Kerja


Modul II : Perancangan dan Pengukuran Kerja

 

Kompetensi Pokok Bahasan :

  •   Mampu melakukan pengukuran kerja,                prosedur pengukuran kerja dengan beberapa   metode pengukuran kerja (Stop Watch dan sampling Kerja).
  •   Mampu melakukan evaluasi dan perbaikan metode kerja.
  • Mampu melaksanakan perancangan fasilitas dan alat kerja

              ANALISIS PERANCANGAN  KERJA
                     (METHOD ENGINEERING)

Tujuan dari method engineering adalah melakukan perbaikan metode kerja disetiap bagian untuk meningkatkan fleksibilitas sistem kerja, kepuasan pelanggan dan meningkatkan produktivitas kerja.

STUDI KERJA (WORK STUDY)

Perbaikan proses, prosedur dan tata cara pelaksanaan penyelesaian pekerjaan.
Perbaikan dan penghematan penggunaan material, mesin/fasilitas kerja serta tenaga kerja.
Perbaikan tata ruang kerja yang mampu memberikan suasana kerja/lingkungan kerja yang lebih aman dan nyaman.
Pendayagunaan usaha manusia dan pengurangan gerakan-gerakan (motion) kerja yang tidak perlu ataupun penyederhanaan kerja (work simplification).

Tujuan penyederhanaan kerja :  Mencari cara kerja yang terbaik (lebih mudah, lebih cepat, efisien, efektif, dan menghindari pemborosan material, waktu, tenaga dll).

Lima langkah penyederhanaan kerja :

  1. Memilih kegiatan kerja : yaitu kegiatan yang tdk efisien atau kegiatan yang  penyelesaiannya lambat dan ingin diperbaiki.
  2. Pengumpulan dan pencatatan data / fakta Yang berkaitan dengan metode kerja yang selama ini dilaksanakan : informasi yang berkaitan dg urutan kegiatan, gerakan-gerakan kerja, layout dll.
  3. Analisa terhadap langkah-langkah kerja. Langkah2 yg tdk efisien dicari sebab-sebabnya.
  4. Usulan altrnatif metode kerja yang lebih baik Diusulkan MK yg dianggap efisien dan efektif, sebelum usulan diputuskan terlebih dahulu di uji coba.
  5. Aplikasi dan evaluasi metode kerja baru.

      Mengaplikasikan alternatif MK yang lebih baik untuk menggantikan metode yang lama, evaluasi.



                             
PETA PETA KERJA
                   PETA PROSES (PROCESS CHART)

Pendekatan tradisional yang digunakan untuk menganalisis metode kerja.
Merupakan alat yang menggambarkan kegiatan kerja secara sistematis dari tahap awal sampai akhir.
Lambang yang digunakan :


                         =  Operasi

                         
=  Transportasi
 
                          =  Pemeriksaan

                          =  Penyimpanan

        
                         =  Menunggu
MACAM PETA KERJA

Peta Proses Operasi

  •   Peta Proses Operasi
  •   Diagram Aliran
  •   Peta Pekerja dan Mesin
  •   Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan

 Peta Proses Operasi

Diagram yang menggambarkan langkah-langkah proses yang akan dialami bahan baku mengenai urut-urutan operasi dan pemeriksaan.

      Kegunan peta aliran proses

  1. Mengetahui aliran bahan mulai masuk proses sampai aktivitas   berakhir.
  2. Mengetahui jumlah kegiatan yang dialami bahan selama proses berlangsung.
  3. Sebagai alat untuk melakukan perbaikan proses atau metode kerja
  4. Memberikan informasi waktu penyelesaian suatu proses.
  5. Peta aliran proses memperlihatkan semua aktivitas-aktivitas dasar termasuk transportasi, menunggu dan penyimpanan. Sedangkan peta proses operasi terbatas pada operasi dan pemeriksaan saja.
  6. Peta aliran proses menganalisa setiap komponen yang diproses secara lebih lengkap dibandingkan peta proses operasi.
  7. Peta aliran proses tidak bisa digunakan untuk menggambarkan proses perakitan secara keseluruhan.
  8. Peta aliran proses hanya menggambarkan dan digunakan untuk menganalisa salah satu komponen dari produk yang dirakit.

PENGUKURAN KERJA
(WORK MEASUREMENT)

  1. Suatu aktivitas untuk menentukan waktu rata-rata yang dibutuhkan oleh seorang operator (yg memiliki skill rata-rata dan terlatih) dalam melaksanakan kegiatan kerja dalam kondisi dan tempo kerja yang normal.
  2. Kriteria pengukuran kerja adalah pengukuran waktu (time study), yaitu waktu standar atau waktu baku.

  1.            Pengukuran waktu :
           Pengukuran waktu secara langsung :

          Pengukuran dengan stop watch

          Sampling kerja

  1. Pengukuran waktu secara tidak langsung

          Data waktu baku

          Data waktu gerakan, dll.

 

  

  • PENGUJIAN DATA
    Uji kecukupan data.

    Untuk memastikan bahwa data yang telah dikumpulkantelah cukup secara obyektif. Pengujian kecukupan data dilakukan dengan berpedoman pada konsep statistik, yaitu derajat ketelitian dan tingkat keyakinan/ kepercayaan. Derajat ketelitian dan tingkat keyakinan adalah mencerminkan tingkat kepastian yang diinginkan oleh pengukur setelah memutuskan tidak akan melakukan pengukuran dalam jumlah yang banyak (populasi).

          Derajat ketelitian (degree of accuracy)

                Menunjukkan penyimpangan maksimum hasil pengukuran dari waktu penyelesaian sebenarnya.

          Tingkat keyakinan (convidence level)

                Menunjukkan besarnya keyakinan pengukur akan ketelitian data waktu yang telah diamati dan dikumpulkan.

         Uji kecukupan data digunakan rumus sbb. :

N’ =

 

 

Dengan :

k              = Tingkat keyakinan

k              = 99% = 3

k              = 95% = 2

s              = Derajat ketelitian

N             = Jumlah data pengamatan

N’           = Jumlah data teoritis

Contoh :

Suatu pengukuran elemen kerja dilakukan sebanyak 15 kali dengan menggunakan stop watch. Bila tingkat keyakinan 95% dan derajat ketelitian 10%, apakah jumlah pengamatan cukup?

Pengamatan (menit)
Pengamatan ke
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Data Pengamt.
8
7
7
6
8
6
9
8
9
6
8
5
5
9
6

 

SX          = 107

(SX)2 = 11449

SX2        = 791

k              = 95% = 2

s              = 10%

N’  =                                                  

 

 

 

Karena N’ < N , maka data dianggap cukup.

Uji Keseragaman data


Untuk memastikan bahwa data yang terkumpul berasal dari system yang sama dan untuk memisahkan data yang memiliki karakteristik yang berbeda.
    BKA    =  X + k
s
    BKB    =  X  - ks


   
s         =            

 

Dengan :
                BKA        = Batas Kontrol Atas
                BKB        = Batas Kontrol Bawah
                  X           = Nilai Rata-rata
                 
s           = Standar Deviasi
                  k            = Tingkat Keyakinan

Contoh:
Suatu pengukuran elemen kerja dilakukan sebanyak 15 kali dengan menggunakan stop watch, jika batas kontrol ± 3. Tentukan apakah data seragam atau tidak.

Contoh:
Suatu pengukuran elemen kerja dilakukan sebanyak 15 kali dengan menggunakan stop watch, jika batas kontrol ± 3. Tentukan apakah data seragam atau tidak.
Pengamatan (menit)
Pengamatan ke
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Data Pengamt.
8
7
7
6
8
6
9
8
9
6
8
5
5
9
6

X                             = 7,13          

S (X – X)2            = 27,73 

s                             = 1,4

BKA                        = 7,13 + 3 (1,4) = 11,33

BKB                        = 7,13 – 3 (1,4) = 2,93   

    

Semua data masuk dalam range antara BKA dan BKB, maka data dikatakan seragam

                                                                 

Penyesuaian (Rating Factor)

          Sering terjadi bahwa operator dalam melakukan pekerjaannya tdk selamanya bekerja dlm kondisi wajar, ketidakwajaran dapat terjadi misalanya tanpa kesungguhan, sangat cepat seolah-olah diburu waktu, atau karena terjadi kesulitan-kesulitan sehingga menjadi lamban dalam bekerja.

             Bila terjadi demikian maka pengukur harus mengetahui dan menilai seberapa jauh ketidakwajaran tersebut dan pengukur harus menormalkannya dengan melakukan penyesuaian.

             Penyesuaian dapat dilakukan dengan mengalikan waktu siklus rata-rata dengan faktor penyesuaian (p).

           Tiga kondisi faktor penyesuaian yaitu :

   -  Bila operator bekerja diatas normal (terlalu cepat), maka harga p     nya lebih besar dari satu (p > 1).

   - Operator bekerja dibawah normal (terlalu lambat), maka harga p nya lebih kecil dari satu (p< 1).

   - Operator bekerja dengan wajar, maka harga p nya sama dengan satu (p =   1).

Metode-metode untuk menentukan penyesuaian

1.
The Westing House System
               
Sistem ini dikembangkan oleh Westing House Electric    Corporation dengan mempertimbangkan empat factor                 al : ketrampilan, usaha, kondisi dan konsistensi.
  
2.
Synthetic Rating
               
Dikembangkan oleh Morrow, Synthetic Rating meng-     evaluasi kecepatan operator dari nilai waktu gerakan                 yang sudah ditetapkan terlebih dahulu.

3. Speed Rating/Performance Rating
                Sistem ini mengevaluasi performansi dengan     mempertimbangkan tingkat ketrampilan persatuan        waktu saja.

4. Objective Rating
               
Dikembangkan oleh Munder dan Danner, Metode ini tdk             hanya menentukan kecepatan aktivitas, tetapi juga                 mempertimbangkan tingkat kesulitan pekerjaan. Faktor-             faktor yang mempengaruhi tingkat kesulitan pekerjaan           adalah : jumlah anggota badan yang digunakan, pedal    kaki, penggunaan kedua tangan, koordinasi mata dengan                 tangan, penanganan dan bobot.


Kelonggaran (Allowance)
Adalah faktor koreksi yang harus diberikan kepada waktu kerja operator, karena operator dalam melakukan pekerjaannya sering tergangu pada hal-hal yang tidak diinginkan namun bersifat alamiah, sehingga waktu penyelesaian menjadi lebih panjang (lama).

Kelonggaran dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :

  1. Kelonggaran untuk kebutuhan pribadi.
    Kegiatan yang termasuk kebutuhan pribadi : minum untuk menghilangkan rasa haus, pergi ke kamar kecil, bercakap-cakap dengan sesama pekerja, dll.
  2. Kelonggaran untuk menghilangkan kelelahan (fatigue). Rasa fatigue tercermin antara lain dari menurunnya hasil produksi, bila rasa fatique ini berlangsung terus maka akan terjadi fatigue total, yaitu anggota badan tdk dapat melakukan gerakan kerja sama sekali. Untuk mengurangi kelelahan si pekerja dapat mengatur kecepatan kerjanya sedemikian rupa sehingga lambatnya gerakan-gerakan kerja ditujukan untuk mengilangkan rasa fatigue tersebut.
  3. Kelonggaran untuk hambatan-hambatan yang tidak dapat dihindari.
    Beberapa kelonggaran untuk hambatan tak terhindarkan :

Ø        Menerima atau meminta petunjuk pada pengawas.

Ø        Memperbaiki kemacetan-kemacetan singkat seperti mengganti alat potong    (komponen) yang patah, memasang kembali komponen yang lepas dll.  

Ø        Mengambil alat-alat khusus atau bahan-bahan khusus               dari gudang.

Ø       Mesin berhenti karena aliran listrik mati, dll.

 

Waktu Baku (Waktun Standar)

Setelah penentuan penyesuaian dan kelonggaran, maka untuk menghitung waktu baku dapat menggunakan formulasi sebagai  berikut :


WB = [  W siklus x RF ] x 

                     
 
           Waktu Normal

                 

Keterangan :
WB         = waktu baku
RF           = Penyesuaian (Rating Faktor/Performance
              Rating)
All           = Kelonggaran (Allowance)

 

Contoh
Suatu pekerjaan pengemasan barang dalam kotak kardus terdiri dari empat elemen kegiatan dengan setiap elemen kegiatan dilakukan 10 kali pengamatan seperti pada table berikut. Apabila kelonggaran adalah 15%  Tentukan waktu standar.


Elemen
Kegiatan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
SX
X
RF
WN
1
Mengambil Kotak Kardus
0,06
0,08
0,07
0,05
0,07
0,06
0,08
0,08
0,07
0,06
0,68
0,07
1,1
0,07
2
Memasukkan Barang
0,15
0,17
0,14
0,14
0,16
0,15
0,17
0,15
0,14
0,16
1,53
0,15
0,9
0,13
3
Menutup
Kotak Kardus
0,21
0,23
0,22
0,21
0,25
0,24
0,23
0,26
0,22
0,22
2,29
0,23
1,05
0,24
4
Meletakan Hasil
0,08
0,10
0,09
0,12
0,11
0,08
0,08
0,11
0,12
0,08
0,97
0,09
0,95
0,08
Waktu Normal   =   0,52 menit/unit
Waktu Baku      = 0,52 x

 

          Pengukuran Waktu dengan Sampling Kerja
Melakukan pengamatan dengan mengamati apakah tk dalam kondisi kerja atau menganggur.

          Pengamatan tidak dilakukan secara terus-menerus melainkan hanya sesaat pada waktu yang telah ditentukan secara acak/random.

          Melakukan kunjungan ke tk yang akan diukur waktunya secara acak, yaitu setiap kali kunjungan dengan selang waktu yang tidak sama dan didasarkan pada bilangan random yang dikonversi ke satuan waktu.

          Misal, kunjungan dilakukan sebanyak 100 kali dengan waktu pengamatan secara acak dan 90 kali pengamatan tk dalam kondisi kerja/sibuk, maka prosentase tk dalam kondisi sibuk adalah 90/100 = 0,9. Tk dalam kondisi idle/menganggur adalah 10/100 =0,1

          Pengujian Data
Kecukupan Data

     SP      =            

 

 

      N’     =

               

 

Dengan :

                S              = Derajat ketelitian

                p             = Prosentase sibuk/produktif

                k              = Tingkat keyakinan

                N’           = Ukuran sample/data

             Keseragaman Data

                     Batas kontrol untuk p

                         BKA     =            

                         BKB     =

                         Dengan pengertian sbb:

                         BKA     = Batas kontrol atas

                         BKB     = Batas kontrol bawah

                         p          = Prosentase sibuk/produktif

                         k           = Tingkat keyakinan

 

 

          Contoh :

                      Suatu pengamatan sampling kerja dilakukan selama 10 hari kerja dengan waktu pengamatan setiap hari kerja adalah 6 jam. Ukuran sample adalah 50 setiap hari, tingkat keyakinan 99% dan derajat ketelitian 5%. Tentukan kecukupan dan keseragaman data.

 

Tgl Pengamatan
1/1
2/1
3/1
4/1
5/1
6/1
7/1
8/1
9/1
10/1
Kondisi idle
5
6
8
10
7
3
4
5
6
4
Kondisi kerja
45
46
42
40
43
47
46
45
44
46
Prosentase idle
0,1
0,12
0,16
0,2
0,16
0,06
0,08
0,1
0,12
0,08
Prosentase kerja
0,9
0,88
0,84
0,8
0,86
0,94
0,92
0,9
0,88
0,92

 

Prosentase idle = 0,116,

prosentase kerja (p) = 1 –0,016 = 0,884

k              = 99% = 3                N          = 500

S              = 0,05                       n          = 50

N’           = 

Karena N’ < N, maka data dianggap cukup

BKA =   

 


BKB =     

Karena nilai prosentase kerja semuanya masuk dalam range BKA dan BKB, maka data seragam.

 

 

 

          Waktu Baku

    Penentuan waktu baku dengan sampling kerja dihitung dengan menggunakan rumus :

   

    Waktu Normal               = 

 

 

  Waktu Baku                      =                

   

 

Contoh :

Seorang pekerja kantor pos bekerja delapan jam sehari untuk melakukan penyortiran surat-surat. Dari pengamatan yang dilakukan ternyata 85% pekerja tersebut dalam kondisi bekerja dan 15% dalam kondisi menganggur. Apabila jumlah surat yang disortir sebanyak 2345 surat, maka tentukan waktu bakunya dengan asumsi rating factor adalah 115% dan kelonggaran 20%.

Waktu Normal (Wn)       =



Waktu Baku (Wb)            =



Output Standar                 =
               

Jadi, pekerja mampu mengerjakan penyortiran surat sebanyak 4 surat per menit.